OLeh : Dede Kurniawan
Iftitah
Beragam diskursus tentang kiprah IMM telah banyak mengundang pergunjingan yang menggugat. Seribu gugatan tersebut memang layak dijadikan dasar pemikiran dari wujud eksistensi dan peran IMM selama ini. Dalam persaingan yang semakin tajam antar berbagai organisasi dan pergerakan, IMM sudah seharusnya kembali untuk berfikir radikal dan mendasar membuat konstruksi eksistensi dan jati diri yang mengakar dengan membumikan signifikansi perannya sebagai organisasi kemahasiswaan dan sekaligus Ortom Muhammadiyah.
Secara umum, apa yang dialami IMM Sekarang ditengah pergolakan pelbagai pergerakan elemen kemahasiswaan sepertinya tengah mengalami stagnasi atau paling tidak berjalan sangat lamban. Hipotesa ini memang masih perlu melewati pengkajian yang mendalam. IMM adalah tempat persemaian kader ––khususnya–– Persyarikatan Muhammadiyah untuk masa depan, ketika berangkat dari perspektif itu sepertinya akan ditemukan kembali masalah lama yang masih terus menjadi gejala kambuhan bagi IMM. Yaitu, sejauh mana sumbangan IMM untuk dapat mencetak kader yang mumpuni bagi persyarikatan dan umat secara simultan baik pemikiran atau pengabdian. Kajian ini memang cukup urgen dipikirkan oleh seluruh Angkatan Muda Muhammadiyah dan bukan hanya IMM. Karenanya sebagai ortom yang mewadahi mahasiswa maka kontribusi pemikiran kader IMM bagi persyarikatan memang perlu dipertanyakan.
Realitas IMM kini
Wacana di atas memang bukan pekerjaan rumah yang ringan bagi IMM. Tetapi bukan berarti IMM justru hanya menunggu dan larut dalam arus persoalan yang berujung pangkal pada terhempasnya eksistensi. Sebagai basis kaum akademisi kampus, sudah sepatutnya berbagai terobosan dan restorasi yang fundamental mesti dilakukan di tiap levelnya secara konsisten.
Jika memang para kadernya masih bersepakat bahwa tajdid masih ideal untuk dijadikan jiwa gerakan sebagaimana Muhammadiyah. Maka saatnya kini bagi IMM untuk melakukan reorientasi dan redefinisi jati diri sebagai langkah melakukan pembaruan. Karena jika tidak sebuah keniscayaan akan marjinalisasi IMM dalam persaingan gerakan mahasiswa akan terjadi, pun demikian fungsinya IMM bagi Muhammadiyah.
Hal tersebut memang perlu disadari oleh seluruh kader IMM, mustahil terwujud bagi sebuah organisasi dapat membuktikan peran dan fungsinya jika individu yang berperan didalamnya tidak memahami masalah apa yang terjadi. Persoalan krusial bagi IMM sekarang adalah biasnya jati diri dan orientasi gerakan. Sepantasnya IMM kembali ke orientasi awal gerakannya dikampus, hal ini berarti basis utama pengembangan kader ada di masing-masing kampus perguruan tinggi yang utamanya adalah PTM itu sendiri.
Dalam konteks ranah ruang keilmuan, keagamaan, dan sosial kemasyarakatan nampaknya kader IMM belum mampu mencerna dan mentranformasikan dengan apa yang disebut tri kompetensi dasar sebagai bidang garap gerakan IMM sesungguhnya. Hal ini terjadi tentu bukan karena orientasi tersebut tidak sesuai sebagai sebuah ruang, tetapi lebih dikarenakan model pengkaderan IMM sekarang mulai kehilangan tujuan dan terkesan hanya menjadi kewajiban yang bersifat rutinitas sehingga tidak mampu membuat tafsiran kontekstual dan untuk selanjutnya berkiprah di ruang tersebut.
Utamanya muatan dalam Darul Arqam Dasar (DAD) sebagai tahapan awal jenjang pengkaderan mesti mampu mencakup penanaman nilai dan jiwa tiga kompetensi dasar tadi selain matan keyakinan Muhammadiyah sebagai tahapan awal dari proses kaderisasi, konsolidasi dan kristalisasi kader. Dalam arti penanaman ideologi, keyakinan serta militansi adalah target yang mesti terpenuhi bagi masing-masing calon kader agar dapat mencapai cita-cita gerakan [AD/ART IMM, 2002].
Realitas yang ada menunjukkan, jumlah kuantitatif kader yang ada belum diimbangi dengan kemampuan kualitatif yang mumpuni atau setidaknya mampu memenuhi standar minimal di atas. Padahal jika dicermati, arah dan tujuan IMM sebetulnya cukup sederhana tetapi sulit untuk diwujudkan. Jangankan untuk pengabdian kepada masyarakat. Persoalan interen organisasi terkadang harus terbentur pada konsistensi dan ke-mood-an funsionarisnya, bahkan tidak jarang konflik yang tidak perlu dalam melakukan gerak organisasi harus terus berlarut bahkan menjadi stigma sejarah.
Itu artinya para kader IMM sekarang tidak mampu untuk menterjemahkan raison d’etre IMM. Hal yang mendasar menurut penulis adalah menguapnya penanaman ruh idiologi IMM (Bermuhammadiyah) terutama setelah garapan pengkaderan mengalami diskontinuitas yang disebabkan berbagai hal.
Meminjam pendapat Prof. Din, bahwa IMM merupakan laboratorium kepemimpinan bagi setiap mahasiswa yang menyetujui azas dan tujuan IMM (anggota). Jika pengertiannya demikian maka di-IMM-lah setiap kader dapat mengembangkan segenap potensi, belajar dan belajar sebagai pembekalan dalam mengemban misi Muhammadiyah di masyarakat.
Hal tersebut bukan tanpa dasar untuk dicermati. Karena IMM merupakan salah satu cabang yang harus memberikan buah manis bagi umat dari keseluruhan batang tubuh Muhammadiyah. Dus karenanya dalam hal ini pengabdian kepada masyarakat dan persyarikatan secara ikhlas dari kader IMM layak dijadikan tuntutan!. Reposisi eksistensial bagi IMM terhadap pembenahan intelektualisme kader dalam artian yang luas kiranya dapat dijadikan tahapan langkah terhadap terapi reposisi gerakan IMM dari basis kampus melalui bentuk-bentuk pengkajian yang diimplementasikan dalam pergerakan dan bagi Muhammadiyah dan umat. [Abdul Rahim Ghazali, 2001] tradisi membaca dan berdiskusi (mengkaji) harus terus dihidupkan agar mampu membentuk budaya intelektualis dan pola pikir akademis sebagai identitas untuk dapat memberikan sumbangan pemikiran kebangkitan umat.
Sebelum melangkah lebih jauh dan seperti yang telah terpaparkan di atas. Bahwa pola pembinaan kader, haruslah dikembalikan kepada frame berpijak awal. IMM harus mampu membina kadernya untuk siap menjadi pelopor yang memiliki kompetensi akademis dengan segala kelebihan terutama pemikiran, kepemimpinan dan dedikatif dalam gerakannya. Untuk itu pengkaderan tidak hanya berhenti pada regenerasi anggota (recruitment) dan penyelenggaraan DAD.
Lebih dari itu setiap kader harus terbina dengan penanaman dan penguatan keyakinan terhadap aqidah (keIslaman dan keMuhammadiyahan), intelektualisme, mental kepemimpinan serta kompetensi akademis secara konsisten dan terpola. Melalui bentuk-bentuk pengkajian dan kritisisme terhadap perkembangan global, pandai menangkap isu, berdiskusi dan bergerak seperti yang diajarkan Kyai (Ahmad Dahlan) yang dengan kritis mampu menterjemahkan Qur’an (Islam) lewat penafsiran kontekstual dan membumikan realitas kebutuhan umat dengan penuh inovasi yang cerdas [Sutia Budi, 2003:3]. Dengan kata lain setiap perkembangan yang terjadi adalah momentum garapan dakwah IMM dalam aksinya.
Untuk kembali menggiatkan semangat kader, maka reposisi jati diri IMM yang tertuang dalam konsitusi organisasi haruslah diterjemahkan kontekstual serta diimplementasikan dengan melakukan sebuah restorasi yang fundamental terhadap hakikat IMM itu sendiri. Dan hal itu harus disadari oleh setiap kadernya dimanapun. Sehingga apapun yang dilakukan IMM dan kadernya harus selalu mengacu kepada jiwa serta semangat ber-Muhammadiyah sesungguhnya. Untuk itu, dalam melakukan sebuah pemantapan dan reposisi jati diri maka kader IMM suka tidak suka haruslah memahami latar belakang sejarah dan identitas dirinya. Tetapi bukan berarti IMM menjadi konservatif dan fundamentalis dalam kesehariannya. Karena melalui pemahaman dan penguatan jati diri kader langkah IMM kedepan diharapkan tidak mengalami pembiasan.
Sejarah telah mencatat bahwa IMM lahir bukan karena keterpaksaan. Dengan bahasa lain karena Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) yang pada waktu itu akan dibubarkan. Melainkan ada dua faktor penting yang melatar belakangi yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor dimana Muhammadiyah harus senantiasa dapat melestarikan dan mengembangkan sayapnya dalam misi dakwah di lingkungan masyarakat akademisi ( mahasiswa ) dengan jiwa dan idiologinya. Serta faktor dimana muhammadiyah harus memperluas strategi dakwah di masyarakat melalui mahasiswa [Noor Chozin Agham, 1997:4-26] (baca; Melacak Sejarah dan Kelahiran IMM) hal itulah yang wajib menjadi pedoman, bahwa kader IMM adalah kader Muhammadiyah. IMM adalah organisasi kader dan kader IMM adalah kader dakwah dikalangannya.
Maka ketika pelurusan hakikat dan jati diri IMM sebagai organisasi kemahasiswaan dan organisasi otonom Muhammadiyah telah terjelaskan, pertanyaan selanjutnya adalah apakah setiap kader IMM mampu untuk berittiba (dalam tafsiran; sebagai mahasiswa yang Muhammad-Iyyah) dengan Muhammadiyah dan mampu untuk tetap eksis serta mewarnai kiprah pergerakan mahasiswa terlebih kini. Karena IMM adalah ladang bagi Muhammadiyah maka IMM berkewajiban dan harus berperan aktif dalam tanggung jawab dakwah dan kelangsungan Muhammadiyah.
Kemudian harus disadari bahwa ketika hal tersebut dicerna IMM harus mampu untuk mengejawantahkan Muhammadiyah sebagai sebuah organ atau simbol dakwah Islam khususnya di masyarakat mahasiswa karena atas dasar itulah IMM ––salah satu bagian Muhammadiyah–– menjadi cerminan Muhammadiyah kedepan dalam konteks kaderisasi dan kelangsungan dakwah Muhammadiyah. Sebuah simbolisasi Muhammadiyah telah menjadi tugas berat bagi IMM kini dan akan datang [Yasraf Amir Piliang, 2003]. Dalam artian adanya generalisasi dari umat terhadap Muhammadiyah dan IMM menjadi tak terelakan.
Khotimah
Ulasan singkat di atas adalah alternatif pemikiran dalam membangun IMM dengan mencoba menggali salah satu persoalan yang terjadi. Adalah tugas yang tidak ringan dalam mengembangkan dan memajukan IMM di kancah pergolakan serta pertarungan institusi kemahasiswaan yang kompetitif, terlebih dengan tugas utama dalam turut mewujudkan terbentuknya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, adil dan makmur yang diridhai Allah Subhanahu Wata’ala (maksud dan tujuan Muhammadiyah).
Dalam kondisi bangsa yang penuh dengan pesimisme dan krisis yang makin komplek, IMM kian dituntut untuk mampu proaktif dalam melakukan perubahan yang fundamental dalam membangun umat dan bangsa. Sebuah realitas yang menujukan bahwa bangsa ini memerlukan kader-kadernya untuk mampu membawa keluar dari keterpurukan dan ketertinggalan. Wallahu‘alam []
Saya pikir bahwa penting bagi IMM untuk mengidentifikasi dirinya sebagai gerakan mahasiswa, bukan semata-mata ortom. Agar Ikatan mampu berkiprah selayaknya sebuah gerakan sosial, bukan berorientasi “sekedar” mencetak kader bagi Muhammadiyah. Banyak anggota IMM yang bergabung karena tertarik dengan tujuan gerakan dan sosok Ahmad Dahlan yang fenomenal. Meskipun, untuk berkiprah di Muhammadiyah.. mungkin enggan. Melihat kondisi Muhammadiyah yang telah berubah menjadi gerakan struktur-fungsional.